Belajar dari Perjuangan Relawan Pedagang Kaki Lima (PKL) Sunday Morning UGM

“Gadjah Mada adalah mata airku, Gadjah Mada adalah Sumberku, Mengalirlahlah kelautnya, Pengabdian kepada Rakyat, Bukan pada kemuktian diri.”-Soekarno

Harap soekarno yang begitu besar tentang kampus tua ini (UGM) saya kira masih bisa dipertanggung jawabkan melihat semangat perjuangan teman-teman yang mengawal isu relokasi PKL Sunday morning (Sunmor) UGM yang tidak berkeadilan. Berawal dari hiruk-pikuk perjuangan yang mulai kami bangun di Bem km fmipa ugm kabinet mipa berkarya, kadept aksi propaganda saat itu Hasti mulai memantik agar Bem km fmipa turut andil dalam mengawal isu relokasi tersebut.

 

Bulan April yang notabennya adalah bulan yang sangat banyak agenda-agenda dari bem membuat beberapa rekan sedikit mengenyampingkan ajakan hasti dengan alasan ingin menunaikan komitmen program. Karena dua partner saya di ketua lembaga yaitu dita dan yuris cukup intens dalam mengawal isunya saya pun juga tertarik belajar mengawal isu relokasi ini.

Mengawal proses ini sangat panjang, mulai diskusi, proganda, kajian, lobi negosiasi hingga berujung aksi di bulan juni dengan rilis aksi seperti di bawah ini.

“Mencari Pak Pratikno, Tuntaskan Permasalahan Sunday Morning UGM”

Sunday morning (SUNMOR) adalah tempat berlangsungnya kegiatan jual beli dihari Minggu pagi di Universitas Gadjah Mada (UGM). SUNMOR yang sudah berdiri sejak beberapa dekade yang lalu sekarang menghadapi permasalahan yang pelik. SUNMOR saat ini dianggap sebagai kegiatan jual beli yang ilegal oleh UGM. Status ilegal SUNMOR muncul semenjak akhir tahun 2013, kontrak penggunaan lahan UGM oleh SUNMOR dinyatakan berakhir. UGM menyatakan akan menggunakan lahan yang selama ini digunakan oleh SUNMOR untuk berbagai kepentingan UGM. Kegagalan pihak UGM dalam menjelaskan berbagai kepentingan tersebut kepada para pedagang SUNMOR menyebabkan pedagang bersikukuh untuk terus menetap di lokasi berjualan semula sebelum mendapat kejelasan yang manusiawi dari UGM tentang rencana UGM dalam menggunakan tanah tempat para pedagang berjual beli.

Para pedagang beranggapan bahwa keberadaan SUNMOR sebenarnya dapat disinergiskan terhadap semua rencana UGM. Seandainya proses sinergisitas kedepannya tidak dapat dilakukan maka para pedagang berharap mendapat proses yang dapat menghasilkan kemufakatan yang menguntungkan kedua belah pihak antara UGM dengan pihak pedagang SUNMOR. Harapan pedagang berikutnya adalah dapat berpartisi aktif dalam proses pencarian kemufakatan, bukan hanya pasif dan menjadi sekedar objek kebijakan.

Dari keadaan inilah kami, mahasiswa dan berbagai organisasi mahasiswa di UGM berangkat atas dasar kepedulian akan terputusnya proses komunikasi antara pihak SUNMOR dengan pihak UGM menuntut beberapa hal :

  1. Menuntut kepada rektor UGM untuk segera turun tangan menuntaskan permasalahan antara UGM dengan para pedagang SUNMOR. Selama ini diperoleh informasi bahwa rektor UGM menyerahkan seluruh keputusan penyelesaian kasus ini kepada wakil rektornya, namun terbukti permasalahan justru semakin berlarut larut.
  2. Menuntut kepada pihak UGM untuk membuka pintu komunikasi seluas luasnya kepada pihak pedagang SUNMOR sebagai sarana pencerdasan dan juga wadah pastisipasi pedagang SUNMOR dalam menentukan masa depan SUNMOR di UGM. Tuntutan ini dilayangkan dikarenakan sebagai institusi pendidikan (Universitas), UGM dianggap gagal dan tidak berkompeten mendidik masyarakat (pedagang SUNMOR) apabila tidak mampu menyelesaikan permasalahan SUNMOR di UGM dan justru memperkeruh permasalahan tersebut.

 

Dua tuntutan inilah yang kami tujukan kepada pihak UGM. Tuntutan tersebut untuk membuktikan bahwa Universitas Gadjah Mada masih merupakan sebuah kampus ndeso yang peduli terhadap kehidupan rakyat.

Yogyakarta, 12 Juni 2014

a.n. Mahasiswa UGM*

* BEM KM FMIPA, DEMA Justicia, BEM KM UGM, , BEM FBio, BEM FPT, LEM FKT, BEM KM FA, BEM KM FK, BEM KM FKG, KM SV, BEM FTP.

 

Saya banyak belajar dari pengawalan isu PKL Sunmor ini, sebuah kesempatan yang luar biasa dapat rapat bersama pedagang kaki lima, diskusi hingga pukul 3 pagi, aksi bersama pedagang dsb. Jika teman2 ingin lebih tahu isu ini bisa kepo “Koalisi Mahasiswa Peduli Pedagang Sunmor (KOMPPAS)”.

Ada dua syukur terbesar dalam hidup saya, yang pertama lahir sebagai seorang muslim dan yang kedua berkesempatan belajar di UGM kampus kerakyatan. Karena dari UGM saya bisa belajar banyak hal terkhusus filosofi hubungan mahasiswa dan rakyat.

“Hendaknya UGM tidak hanya menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, namun juga bisa menjadi pengembang dan pelestari kebudayaan. Melalui kebudayaan diharapkan sisi-sisi humanisme mahasiswa akan dibangkitkan sehingga tidak menjadi robot-robot ilmu pengetahuan dan teknologi” -Koesnadi Hardjasoemantri

 

*sumber: ugm.ac.id

Leave a Reply

Close Menu