Mengambil Hikmah dari Kisah Nabi Zakariya A.S terkait keutamaan berdoa

Mengambil Hikmah dari Kisah Nabi Zakariya A.S terkait keutamaan berdoa

هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُۥ ۖ قَالَ رَبِّ هَبْ لِى مِن لَّدُنكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۖ إِنَّكَ سَمِيعُ ٱلدُّعَآءِ
فَنَادَتْهُ ٱلْمَلَٰٓئِكَةُ وَهُوَ قَآئِمٌ يُصَلِّى فِى ٱلْمِحْرَابِ أَنَّ ٱللَّهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحْيَىٰ مُصَدِّقًۢا بِكَلِمَةٍ مِّنَ ٱللَّهِ وَسَيِّدًا وَحَصُورًا وَنَبِيًّا مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ

Di sanalah Zakariya mendoa kepada Tuhannya seraya berkata: “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa”. Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakariya, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab (katanya): “Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang puteramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang saleh”. (Surat Ali-Imran 38-39)

Al-Quran menceritakan tentang kisah Nabi Zakariya A.S yang ingin sekali memiliki keturunan, pada saat itu kondisi beliau sudah tua, bahkan istrinya sudah divonis tidak akan bisa memiliki keturunan.

قَالَ رَبِّ إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُنْ بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا (4) وَإِنِّي خِفْتُ الْمَوَالِيَ مِنْ وَرَائِي وَكَانَتِ امْرَأَتِي عَاقِرًا فَهَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا (5) يَرِثُنِي وَيَرِثُ مِنْ آَلِ يَعْقُوبَ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا (6)

“Zakariya berkata “Ya Rabbku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Rabbku. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku (yang mewarisiku) sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera, yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya’qub; dan jadikanlah ia, ya Rabbku, seorang yang diridhai.” (QS. Maryam: 4-6).

Disaat banyak manusia saat itu tidak percaya nabi Zakariya akan memiliki keturunan, tapi beliau selalu yakin dan berdoa dengan penuh harap, dalam surat maryam ayat 4 disebutkan,

وَلَمْ أَكُنْ بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا

Dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Rabbku

Maksud dari perkataan Zakariya adalah ia tidak pernah capek untuk berdoa pada Allah walau belum mendapatkan maksud yang ia minta. Demikian disebutkan oleh Asy Syaukani dalam Fathul Qadir, 3: 444. Ibnu Taimiyah rahimahullah menyebutkan tentang maksud ayat tersebut bahwa Zakariya bertawassul pada Allah dengan pengabulan Allah dan kebaikan Allah pada doa-doanya sebelumnya. (Majmu’ Al Fatawa, 20: 464-465).

Nabi Zakariya berdoa kepada Allah dengan suara lembut dan penuh harap, yang menarik doanya terkait kemaslahatan diin (agama Islam) dan kebaikan akhirat. Nabi Zakariya menginginkan anak yang shalih yang dapat menegakkan agama dan melanjutkan ajaran sepeninggalannya. Sampai doa itupun dikabulkan dengan sangat indah:

“Dan kami berikan kepadanya (Yahya) hikmah selagi ia masih kanak-kanak, dan rasa belas kasihan yang mendalam dari sisi Kami dan kesucian (dan dosa). Dan ia adalah seorang yang bertakwa, dan seorang yang berbakti kepada kedua orang tuanya, dan bukanlah ia orang yang sombong lagi durhaka. Kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahirkan dan pada hari ia meninggal dan pada hari ia dibangkitkan hidup kembali. (QS. Maryam 12-15).

Allah mengabulkan doa Nabi Zakariya dengan lahirnya Nabi Yahya (artinya hidup) yang namanya langsung diberikan oleh Allah swt. Hikmah yang dapat diambil dari kisah ini adalah setiap kali kita ada masalah seharusnya kita mengadu kepada Allah swt (berdoa), mendekat dan memberikan amalan terbaik kita (berkurban). Amalan pertama yang ditekankan dalam islam itu adalah shalat, dan berita baiknya shalat disebut dengan doa, dari mulai takbir sampai salam isinya doa semua. Makanya ketika ada masalah segeralah shalat.

Asy Syaukani menyebutkan bahwa para ulama menyarankan, hendaklah dalam doa kita dikumpulkan dua hal:

(1) khudhu’ yaitu khusyu’ dan penuh ketundukan dalam berdoa,

(2) bertawassul dengan menyebutkan apa yang telah Allah berikan dari nikmat pengabulan doa sebelumnya.

Semoga bermanfaat.

Referensi:

  1. Rumaysho.com
  2. Kajian Ustadz Adi Hidayat Lc., M.A.

—————————————-

Kolom ini merupakan ringkasan kajian Islam yang menurut kami bermanfaat dan dapat diamalkan dalam aktivitas sehari-hari. Mohon koreksinya jikalau ada informasi yang sekiranya perlu dikoreksi. Terimakasih ^^

 

Leave a Reply