You are currently viewing #NgajiBarengBuAya: Tadabbur Juz 2 Al-Qur’an

#NgajiBarengBuAya: Tadabbur Juz 2 Al-Qur’an

Berlanjut ke Juz 2 yang masih menekankan Al Quran sebagai petunjuk (guidance) dengan lebih banyak membahas hukum-hukum Allah. Adapun beberapa hukum yang dijelaskan dalam Juz 2 ini terkait dengan semua aspek kehidupan kita seperti puasa di bulan ramadhan, haji, pernikahan, perceraian, peperangan dsb. Perlu diingat bahwa Al Quran sebagai guidance (petunjuk) dalam hidup tidak dapat membuat kita berubah jadi lebih baik jika kita hanya memilih hukum yang kita mau/suka saja, sedangkan jika ada hukum yang membuat kita tidak suka dan kita tidak mau mengikutinya, maka kita termasuk orang yang mengingkarinya. Maka ikutilah hukum yang mengatur kita secara utuh/sepenuhnya.

Pada juz 2 ada beberapa peristiwa yang diceritakan seperti:
1. Perubahan arah kiblat (dari jerusalem ke mekkah)
Setelah 17-18 bulan menetap di madinah (Tahun kedua setelah hijrah) akhirnya turun perintah terkait perubahan kiblat yang disampaikan dalam surat al baqarah 142:

سَيَقُولُ ٱلسُّفَهَآءُ مِنَ ٱلنَّاسِ مَا وَلَّىٰهُمْ عَن قِبْلَتِهِمُ ٱلَّتِى كَانُوا۟ عَلَيْهَا ۚ قُل لِّلَّهِ ٱلْمَشْرِقُ وَٱلْمَغْرِبُ ۚ يَهْدِى مَن يَشَآءُ إِلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ

Artinya: Orang-orang yang kurang akalnya diantara manusia akan berkata: “Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?” Katakanlah: “Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus”.

2. Perintah untuk berpuasa di bulan ramadhan
Disampaikan dalam surat al-baqarah ayat 183:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa

Perintah berpuasa ini turun pada 17 ramadhan ketika terjadi perang badar, sungguh luar biasa keimanan rasulullah dan para sahabat saat itu, ditengah terjadinya perang, perintah puasa turun dan mereka tunduk dan taat pada perintah tersebut. Goals dari perintah berpuasa adalah semoga kita menjadi hamba yang bertaqwa. Dengan berpuasa, kita lebih mendekatkan diri kepada Allah dan inshaAllah sampai pada maqam takwa.

Sekedar mengingatkan bahwasanya puasa tidak hanya menahan makan dan minum dari terbit fajar (shubuh) sampai waktu maghrib. Tapi juga menahan hawa nafsu seperti menundukkan pandangan dari hal-hal yang tidak dihalalkan bagi kita. Barangkali menundukkan pandangan ini adalah salah satu hal yang mungkin lebih sulit bagi sebagian kita.

Sungguh ramadhan menjadi sebuah kesempatan yang berharga bagi kita. 30 hari berturut-turut kita menngisi keimanan di hati kita serta melatih hati kita untuk bisa mengontrol tubuh kita, jika hati kita bersih inshaallah perbuatan kita baik, karena hati yang bersih menuntun kita untuk melakukan hal-hal yang baik (kebaikan).

Ramadhan juga menjadi media latihan untuk kita agar lebih kuat, ibarat dalam militer ada simulasi perang yang disiapkan agar prajurit bisa lebih siap ketika menghadapi peperangan yang sesungguhnya. Pun, dengan ramadhan, kita dilatih agar hati kita bersih, stay on the track di jalan kebaikan, mengisi semua aktivitas dalam satu bulan penuh dengan hal-hal baik, setan pun dibelenggu sehingga tidak bisa menganggu kita selama ramadhan. Sampai nanti di syawal inshaallah kita menjadi pribadi yang fitrah, suci, dan lebih kuat dalam menghadapi godaan setan yang terkutuk. Maka jadikanlah ramadhan sebagai momen melatih diri agar keimanan menjadi lebih kuat dan kuat lagi sehingga dorongan untuk berbuat dosa menjadi lemah.

3. Kisah Thalut melawan Jalut, Surat Al Baqarah 246-252.
Setelah wafatnya nabi Musa a.s. Orang-orang bani israil tercerai berai, ditambah dengan penindasan yang dilakukan oleh raja Jalut terhadap mereka. Hingga bani israil meminta kepada nabi mereka seorang raja baru, dan Allah menunjuk Thalut sebagai raja (Al Baqarah 247) yang mana Thalut hanyalah orang biasa yang tiada memiliki kekayaan yang cukup banyak.

وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ ٱللَّهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طَالُوتَ مَلِكًا ۚ قَالُوٓا۟ أَنَّىٰ يَكُونُ لَهُ ٱلْمُلْكُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ أَحَقُّ بِٱلْمُلْكِ مِنْهُ وَلَمْ يُؤْتَ سَعَةً مِّنَ ٱلْمَالِ ۚ قَالَ إِنَّ ٱللَّهَ ٱصْطَفَىٰهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهُۥ بَسْطَةً فِى ٱلْعِلْمِ وَٱلْجِسْمِ ۖ وَٱللَّهُ يُؤْتِى مُلْكَهُۥ مَن يَشَآءُ ۚ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ

Artinya: Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu”. Mereka menjawab: “Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?” Nabi (mereka) berkata: “Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa”. Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui. (QS: Al Baqarah – 247)

Thalut diangkat menjadi raja oleh bani israil dan dibekali pasukan yang cukup banyak yang siap berperang melawan pasukan Jalut, dalam perjalanan panjang pasukan ini diperintah untuk tidak minum sampai pada sebuah mata air yang ditentukan. Sampailah mereka pada mata air tersebut, mata air yang indah dan menyejukkan, Raja Thalut kembali memberi perintah bahwasanya mereka hanya boleh meminum air sebagai penghilang dahaga, tidak boleh berlebih-lebihan, disinilah kepatuhan pasukan Thalut diuji, ternyata hanya sebagian kecil yang patuh sedangkan sebagian besar berlebih-lebihan dalam meminum air tersebut.

Akhirnya Thalut hanya mengandalkan pasukan yang sedikit tadi, pasukan yang patuh dan setia kepada perintah Thalut, disini termasuk (nabi) Daud muda yang saat itu masih remaja dengan tubuh kecilnya. Sampainya dimedan peperangan dengan pasukan yang sedikit tadi, tentunya mereka diremehkan oleh pasukan Jalut, sampai Jalut yang bertubuh besar pun mengajak diantara mereka untuk berduel, dan Daud muda menerima tantangan Jalut, meski terlihat tidak setara, tapi atas izin Allah (nabi) Daud berhasil membunuh Jhalut, dan kemenangan pun dibawa oleh pihak Raja Thalut (kelompok bani israil). Peristiwa ini mengajarkan kita bahwasanya kuantitas tak selamanya menjamin, tapi kualitas lah yang lebih membuktikan/menjanjikan sebuah kemenangan, bagaimana pasukan yang hanya sedikit namun setia dan taat pada arahan pemimpinnya yang juga taat kepada perintah Allah swt, atas izin Allah swt mereka bisa menang dalam perang melawan kekuatan besar pada masanya. Setelah itu kepemimpinan Raja Thalut diteruskan oleh Daud, dan beberapa waktu kemudian Daud mendapat wahyu dari Allah swt dan melanjutkan peran-peran kenabian (menjadi Nabi).